Friday, March 26, 2010

Mengais Peran Kitab Suci dalam Keluarga Katolik

Emilianus Yakob Sese Tolo



I. Pendahuluan

Kita tidak bisa menjadi seorang katolik yang baik tanpa Yesus Kristus. Sebab Yesus adalah “jantung” kehidupan orang Katolik. Oleh karena itu, kualitas seorang beriman Katolik sangat ditentukan oleh seberapa jauh dia mengenal dan menjalin relasi yang intim dengan Yesus. Seorang yang mengenal dan menjalin relasi yang intim dengan Yesus adalah seorang yang selalu mengikuti perintah, larangan dan teladan yang telah dibuat Yesus selama hidup-Nya. Namun, pertanyaan, apa yang harus menjadi panduan agar orang bisa mengetahui perintah, larangan dan teladan Yesus. Jawabannya adalah Kitab Suci. Dengan demikian maka untuk mengetahui segala perintah, larangan dan teladan Yesus itu, orang Katolik harus selalu membaca Kitab Suci. St. Hironimus secara tegas berkata: “Siapa yang tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengenal Yesus.

Setiap orang Katolik pernah ada dan hidup dalam keluarga. Bahkan, hampir semua orang Katolik selalu hidup dalam keluarga. Oleh karena itu, adalah baik dan sangat tepat bila kelurga-keluarga Katolik sadar dan disadarkan bahwa Kitab Suci adalahi panduan normatif-religius bagi kehidupan kristiani. Dengan kesadaran ini maka Kitab Suci akan menjadi semacam “matahari” yang senantiasa menerangi perjalanan keluarga dalam menelusuri lorong-lorong kehidupan yang terkadang diliputi kegelapan duniawi. Kitab Suci akan menjadi semacam “motor” yang menggerakan kehidupan berkeluarga. Hidup secara biblis berarti hidup menurut ajaran-ajaran Allah yang termaktub secara total dalam Kitab Suci. Kitab Suci ibarat “sumur kehidupan” yang tak pernah kering, tempat di mana keluarga-keluarga Katolik menimba kekuatan-kekuatan rohani.

II. Kitab Suci dan Daya Konstruktifnya: Belajar Beberapa Tokoh Kristiani

2.1. Kitab Suci dan Keluarga Katolik

Kitab suci dan keluarga Katolik sesungguh memiliki korelasi yang sangat erat. Kualitas kekatolikan keluarga Katolik sangat ditentukan oleh seberapa jauh nilai-nilai kitab suci diselami dan dihayati oleh keluarga dalam kehidupan setiap hari. Bila sebuah keluarga Katolik tidak pernah membaca dan menghayati nilai-nilai injili dalam kehidupannya maka ia tidak menjadi keluarga Katolik dalam arti yang sesungguhnya.

Kitab suci memang menjadi begitu penting bagi kehidupan keluarga kristen. Kurang lebih ada beberapa tesis yang mendukung pernyataan ini. Pertama, kitab Suci adalah Sabda Allah dalam bahasa manusia. Kitab suci adalah sabda Allah, kabar gembira Allah, yang mesti didengar dan dialami oleh keluraga Katolik agar cinta Allah itu bisa menjadi kenyataan dalam keluarga.
Kedua, kitab Suci adalah surat Cinta Allah kepada keluarga-keluarga Katolik. Kitab suci adalah tanda ungkapan cinta Allah kepada keluarga-keluarga Katolik. Cinta Allah itu ibarat seorang pacar yang menuliskan surat cinta kepada wanita pujaan hatinya. Tetapi, tentunya ungkapan cinta Allah adalah tulus, tanpa batas, tanpa syarat, dan tidak bersifaf gombal sebagaimana yang biasa anak muda jaman sekarang lakukan kepada para wanita belahan jiwanya.
Ketiga, kitab Suci adalah Terang Kehidupan keluarga Katolik. Sebagai terang kehidupan, kitab suci ibarat “api” yang senantiasa memberikan cahaya bagi keluarga agar bisa melewati lorong-lorang gelap kehidupan. Kitab suci dalam hal ini menjadi semacam panduan normatif-religius untuk mengarahkan pola tingkah laku keluarga Katolik, yakni tingkah laku yang dikehendaki Allah dan sesuai dengan teladan Yesus Kristus.
Keempat, kitab Suci adalah Sabda Tuhan, perkataan dan perbuatan Yesus sahabat anak-anak. Kitab suci berisi sabda Tuhan dan perbuatan-perbuatan Yesus yang bisa dijadikan sebagai ajaran iman bagi anak-anak. Dengan membacakan atau menceritakan kisah-kisah yang tertulis dalam kitab suci kepada anak-anak, anak-anak akan lebih mengenal iman katolik dan meneladani dan mengikuti perintah Yesus yang adalah sahabat anak-anak.
Anak-anak sesungguhnya senantiasa belajar dari kehidupannya. Bila ia dibesarkan dalam keluarga yang senantiasa membaca kitab suci maka ia akan berlaku demikian untuk seumur hidupnya. Sebaliknya, jika anak-anak tidak dibiasakan sejak kecil untuk bergelut dengan kitab suci maka sampai menjadi seorang dewasa, anak-anak akan tetap berlaku demikian. Mereka melihat kitab suci sebagai sesuatu yang asing dan aneh untuk dibaca.
2.2. Belajar dari Beberap Tokoh Katolik

Daya guna Kitab Suci memang tidak diragukan. Berapa banyak pribadi yang semula hanya coba-coba membaca kian meminatinya. Berbagai perubahan dan sikap hidup pun bisa jadi tampak dalam hidup keseharian mereka. Sebagai Firman Allah, nilai-nilai injili mengalir dan menggenangi arus bawah pikiran mereka, memberi bentuk serta isi pada kata-kata mereka.

Ada beberapa tokoh yang senantiasa menjadi kitab suci sebagai teman hidup dan sumber inspirasi untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Pertama, St. Klara dari Asisi mendirikan komunitas gadis-gadis yang mau mengatur hidup mereka seturut peraturan St. Fransiskus. la sangat akrab dengan Kitab Suci sehingga teks-teks biblis seolah-olah mencetus keluar secara alami dalam tulisan-tulisannya. Pernah dalam suratnya, ia mendorong sahabatnya, Ratu Agnes dari Bohemia, yang memutuskan pertunangan dengan Kaisar Frederik II, supaya dapat menerima kepapaan injili.

Kedua, St. Agustinus. Karena mendengar seruan “Tole lege, tole lege”, yang berarti “Ambillah dan bacalah”, Agustinus pun memungut Kitab Suci dan membacanya. Matanya terpaku pada Roma 13:12-14. Ia tepekur dan tergerak melakuan pembaruan diri. Dari hasil membaca dan merenungkan Kitab Suci, Agustinus membuka diri untuk dibabtis dan menghasilkan karya-karya terkenal. Salah satu karya terkenalnya adalah “Confessiones”. Ia juga kemudian menjadi seorang pujangga dalam gereja Katolik

Ketiga, Bob Marley. Siapa sangka dewa musik beraliran reggae ini pernah menuliskan dalam catatan hariannya demikian, “Mereka mengira aku bicara tentang sosialisme, radikalisme, komunisme. Aku tidak berbicara tentang semua itu. Apa yang aku katakan sebenarnya berasal dari Kitab Suci. Mereka mengatakan itu karena mereka tidak pernah membaca Kitab Suci.” Menyimak apa yang dikatakan, ternyata tokoh seunik Bob Marley masih menimba dan menggelontorkan nilai-nilai spiritual dari Kitab Suci dalam hidupnya.

Berdasarkan pengalaman tiga tokoh kristen di atas, dapat dilihat bahwa kitab suci memiliki daya konstruktif yang bisa mengubah hidup orang dari yang tidak baik menjadi baik. Ia menjadi sumber kekuatan dan sumber inspirasi untuk menghadapi pelbagai tantangan dan gejolak dalam hidup ini. Apa yang ditulis dalam kitab suci selalu aktual sepanjang masa. Namun, membaca kitab suci harus senantiasa dibarengi dengan proses interpretasi kreatif, tetapi selalu tetap berada di bawah pengawasan Magisterium Gereja.

III. Peran Kitab Suci dalam Keluarga Katolik

3.1. Kitab Suci: Sumber Iman Anak

Anak-anak sebagai pemangku masa depan gereja adalah mutiara yang amat berharga bagi gereja. Oleh karena itu, dasar iman mereka harus diperhatikan sedini mungkin. Tanggung jawab untuk memberi dasar iman yang yang baik adalah tugas semua aggota gereja. Tetapi, karena keluarga Katolik adalah tempat pertama dan utama seorang anak mengenal iman katolik, maka ia mesti memberi dasar iman yang benar dan jelas kepada anak-anak. Dasar iman itu bisa ditimba dari sumur kitab suci yang tak pernah kering.
Paus Yohanes Paulus II dan para uskup sedunia, dalam anjuran apostolic Familiaris Consortio, menyatakan empat tugas dan peranan keluarga katolik, yaitu : 1. Membentuk persekutuan pribadi-pribadi; 2. Mengabdi kepada kehidupan; 3.Ikut serta dalam pengembangan masyarakat; dan, 4. Berperan serta dalam kehidupan dan perutusan Gereja.

Pada intinya, setiap keluarga Katolik dipanggil dan diutus menjadi tempat pendidikan pertama dan utama. Dalam keluargalah anak-anak mulai dididik dalam segala hal : belajar berjalan, belajar duduk, belajar berbicara, belajar berperilaku dan bersikap, belajar makan, dll. Pendidikan di sekolah maupun di tempat-tempat lain hanyalah bersifat melengkapi dan melanjutkan pendidikan di rumah dan dalam keluarga tersebut. Pendidikan yang dimaksud tidaklah hanya pendidikan budi pekerti namun juga termasuk di dalamnya : pendidikan iman. Maka, keluarga disebut juga sebagai basis hidup beriman Katolik.

Setiap keluarga tentu mengharapkan setiap anggotanya menjadi pribadi yang tangguh dan mantap dalam segala hal. Dambaan setiap keluarga itu menggaungkan apa yang dikatakan Bacaan Injil (Luk 2:22-40) tentang Yesus kecil : “Ia bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.” Dalam hal ini kita tentu tidak bisa menafikan peran Yusuf dan Maria sebagai orang tua. Mereka berusaha menjadi orang tua yang baik.



Agar dasar iman anak bisa terealisir secara baik maka kerasulan kitab suci oleh orang tua kepada anak-anak adalah sebuah keniscayaan. Intisari dari kerasulan kitab suci bagi anak-anak dalam keluarga adalah agar anak-anak bisa memiliki pertumbuhan spiritual secara biblis. Artinya adalah bahwa segala ajaran iman, moral dan sosial yang terkandung dalam kitab suci dapat terinternalisir dalam totalitas kehidupan seorang anak.

Secar global, ada beberapa tujuan kerasulan kitab suci bagi anak-anak dalam keluarga. Pertama, membantu agar anak-anak bertumbuh-kembang menjadi sempurna Seperti Bapa Sempurna adanya (Mat. 5:48). Kesempurnaan Bapa mesti menjiwai seluruh kehidupan iman anak agar mereka bisa bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tangguh baik secara fisik maupun secar spiritual di masa-masa yang akan datang. Apalagi masa depan gereja sangat ditentukan oleh kualitas anak-anak yang nantinya akan menjadi pemangku tugas dan pelayanan gereja di masa yang akan datang.

Kedua, menjadi serupa dengan Yesus bertambah besar secara fisik, bertambah hikmat-bijaksana secara intelektual, makin dikasihi oleh Allah secara spiritual, dan dikasihi oleh manusia secara sosial-emosional-afektif. Intinya adalah menjadi manusia utuh seperti Yesus (Luk. 2:2). Dalam hal ini tugas keluarga adalah untuk menumbuhkan iman anak-anak akan Yesus sebagai sahabat sejati dan Penyelamat, mendorong anak-anak untuk ikut mengambil bagian dalam tugas perutusan Yesus, menumbuhkan kesetiakawanan anak-anak terhadap teman-temannya yang lebih menderita.
Namun, agar kerasulan kitab suci untuk anak-anak bisa berhasil. Setiap keluarga juga harus menyadari akan kemudahan dan kesulitan kerasulan kitab suci bagi anak oleh keluarga Katolik. Pertama, kemudahan. Dalam kitab suci terdapat banyak cerita menarik, berisikan tokoh-tokoh idola anak-anak yakni Yesus, Sahabat Sejati. Selain itu, kitab Suci memuat banyak nasihat dan contoh hidup yang mudah diterima dan dipahami oleh anak-anak.

Kedua, kesulitan. Terkadang kitab suci menjadi tidak menarik bagi anak-anak. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal. 1) Bahasa, kata-kata dan kalimat dalam Kitab Suci sulit dipahami oleh anak-anak. 2) Buku kitab Suci itu tebal, penuh dengan tulisan, tanpa gambar sehingga tidak menarik minat anak-anak untuk membacanya. 3) Metode penyajian: Kitab Suci diwartakan melalui khotbah yang menjenuhkan. 4) Pengaruh media komunikasi modern yang mengalahkan Kitab Suci. 5) Penggunaan alat visualisasi yang kurang kreatif dan kabur.

Dengan mengetahui kemudahan dan kesulitan ini, maka kerasulan kitab suci dalam kelurga harus memperhatikan hal ini dan mencari jalan keluar atasnya. Kreatifitas ayah dan ibu dalam hal ini sangat dituntut dalam menghadapi kesulitan-kesulitan itu. Orang tua mesti berupaya sekeras mungkin agar anak-anak memiliki dasar iman yang kuat dan kokoh. Sebab peletakan dasar iman yang kokoh adalah tanggung jawab orang tua yang diberikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, tanggung jawab ini mesti diterima secara betanggung jawab sebab satu saat Tuhan akan meminta pertanggung jawaban atas tanggung jawab yang telah Ia berikan itu.


3.2. Kitab Suci dan Hidup Perkawinan

Kitab Suci pun merupakan sumber mata air yang tidak bisa dihindari dan dilepaskan hidup keluarga Katolik. Sebagai cetak biru, ajaran-ajaran Yesus, Kitab Suci menuntun perkawinan dan keluarga untuk membangun fondasi batu karang yang kokoh (bdk. Mat 7:24-25). Jika nilai-nilai biblis bisa dihidupi dalam kehidupan perkawinan, maka kehidupan perkawinan itu akan menjadi lebih hidup, lebih baik dan lebih elegan.


Namun dalam kenyataan faktual, tidak dipungkiri bahwa bangunan hidup perkawinan dan keluarga di zaman moderen sekarang ini sangat dipengaruhi oleh banyak perubahan yang terjadi di masyarakat. Simak saja gelombang arus informasi dan telekomunikasi global, pendidikan, nikah beda agama, relasi suami istri, maupun habitus konsumerisme yang merangsek dan siap melumat hidup perkawinan dan keluarga. Suatu realitas yang tidak dapat dihentikan oleh siapa pun, termasuk keluarga.

Melihat kenyataan ini, seolah perkawinan dan keluarga dihadapkan pada titik terang dan gelap. Di satu sisi ditawarkan segudang harapan dari nasihat-nasihat Injili. Namun di sisi lain, ada nilai-nilai fundamental kehidupan keluarga dirusak oleh persoalan dan masalah. Bila demikian, apakah yang perlu dilakukan oleh pasangan yang akan membangun hidup berkeluarga? Atau, bagaimana keluarga-keluarga mempertahankan ikatan perkawinan mereka?

Dalam buku Family Matters – A Bible Study on Marriage and Family dijelaskan bahwa keluarga Katolik dapat menghidupi perkawainan dengan baik jika mereka selalu mendekatkan diri pada Allah. Para keluarga kristen harus “back to basic”. Artinya, keluarga Katolik diajak untuk kembali ke dasar kehidupanannya yakni Allah sendiri. Mereka mesti lebih dekat dengan Allah, yakni dengan menyediakan waktu bersama untuk berdoa dan membaca sabda-Nya. Ibarat bahtera, mereka harus menyediakan waktu sejenak dan menjangkarkan bahtera mereka pada sesuatu yang sangat mendasar, yakni Kitab Suci.

Kitab suci dalam hal ini memiliki andil untuk memecahkan pelbagai persoalan dalam kehidupan perkawinan. Kitab suci dapat mengubah rasa frustasi yang mulai menggelayut dalam perkawinan mereka. Dengan membaca kitab suci dan menginternalisir nilai-nilai biblis dalam kehidupan perkawinan, para pasutri tidak saja menemukan gairah baru dalam hidup perkawinan dan keluarga mereka. Mereka bahkan mampu menghidupkan sang waktu. Sikap pro kehidupan pun menonjol dalam hidup perkawinan dan keluarga mereka. Dengan antusias, mereka dapat mencermati dan mensikapi sisi-sisi yang mencemari hidup perkawinan dan keluarga dalam budaya modern secara kritis-rasional dan bertanggung jawab.

Harus diakui bahwa kitab suci memliki pengaruh konstruktif bagi Keluarga Katolik sebagai paguyuban-paguyuban terkecil dalam Gereja. Dengan membaca kitab suci, mengiternalisir dan merealisasikannya dalam hidup berkeluarga, keluarga akan semakin kukuh dan bersamaan dengan itu Gereja akan menjadi semakin tangguh. Keluarga yang kukuh adalah keluarga yang berlaku dan bertindak sesuai dengan pesan-pesan injil. Ciri-ciri keluarga yang selalu berlaku dan bertindak sesuai dengan pesan injil adalah sebagai berikut. Pertama, saling tunduk, yaitu saling berlaku dengan cara menerima pertanggung-jawaban penuh atas peran mereka yang berbeda. Selalu bersikap rendah hati dalam membangun mahligai perkawinan. Kedua, saling membangun dalam iman Kristus. Ketiga, mengajar anak-anak mereka dan orang lain yang tinggal di rumah agar mereka dapat mengenal Kristus. Keempat, memelihara kelakuan di rumah tangga yang sesuai dengan kesalehan dan ukuran yang diterima pada umumnya.


IV. Penutup
Kitab suci memiliki peran yang sangat urgen dalam keluarga Katolik. Kitab suci sesungguhnya ibarat “jantung” yang senantiasa memompa darah iman, moral dan spiritual ke seluruh tubuh keluarga. Oleh karena itu, tanpa kitab suci (tanpa membaca kitab suci), keluarga katolik akan “mati” dalam mengamalkan nilai-nilai kristiani dalam kehidupannya.
Dewasa ini, keluarga katolik senantiasa diterpa oleh badai modernisme. Badai modernisme selalu membawa hal-hal yang misa memporak-porandakan kehidupan keluarga kristen. Oleh karena itu, agar keluarga katolik tidak teracam badai modernisme itu maka keluarga katolik harus senantiasa menjadikan kitab suci sebagai “benteng” yang bisa menahan badai yang membahayakan kehidupan keluarga itu. Keluarga katolik harus selalu membaca kitab suci dan mengamalkan nilai-nilai biblis yang dibaca itu dalam kehidupannya setiap hari, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat.

No comments: