Maria Kaju
Oleh Emilianus Yakob Sese Tolo Angin sepoi-sepoi perlahan mendayu menyapu tubuhku. Bak patung yang terpaku, aku tak beringsut sedikitpun. Sebab, energi perhatianku hanya tertuju pada nama itu. Itulah nama yang sudah, sedang dan akan terus ada di dalam dadaku. Dialah biduanitaku. Selama jantungku masih berdetak dan bumi masih berputar pada porosnya, cintaku padanya tak akan pernah sirna. Aku mengenal dia sejak hari pertamaku di SMA. Sejak saat itulah cinta kami tumbuh dan bersemi. Namun, selepas SMA, aku harus meninggalkan kampung menuju Jakarta demi meniti ilmu Ekonomi di salah satu univesitas swasta. Sementara itu, dia terpaksa harus menjadi gadis kampung karena orang tuanya lebih memilih untuk membiayi kedua saudara laki-lakinya yang sedang berlajar di universitas ternama di Yogyakarta. Sejak saat itu, cinta kami hanya bersandar pada lembaran-lembaran putih. Dan, lembaran putihnya yang terakhir membuat aku menangis. *** Kali ini aku ingin mengikuti pesta perkawinan anak perempuannya...