Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Maria Kaju

Oleh Emilianus Yakob Sese Tolo Angin sepoi-sepoi perlahan mendayu menyapu tubuhku. Bak patung yang terpaku, aku tak beringsut sedikitpun. Sebab, energi perhatianku hanya tertuju pada nama itu. Itulah nama yang sudah, sedang dan akan terus ada di dalam dadaku. Dialah biduanitaku. Selama jantungku masih berdetak dan bumi masih berputar pada porosnya, cintaku padanya tak akan pernah sirna. Aku mengenal dia sejak hari pertamaku di SMA. Sejak saat itulah cinta kami tumbuh dan bersemi. Namun, selepas SMA, aku harus meninggalkan kampung menuju Jakarta demi meniti ilmu Ekonomi di salah satu univesitas swasta. Sementara itu, dia terpaksa harus menjadi gadis kampung karena orang tuanya lebih memilih untuk membiayi kedua saudara laki-lakinya yang sedang berlajar di universitas ternama di Yogyakarta. Sejak saat itu, cinta kami hanya bersandar pada lembaran-lembaran putih. Dan, lembaran putihnya yang terakhir membuat aku menangis. *** Kali ini aku ingin mengikuti pesta perkawinan anak perempuannya...

Misteri di Balik Air Mata Yanti

Oleh Emilianus Yakob Sese Tolo Yanti. Itulah nama dara manis nan anggun yang sedang duduk pada bangku paling belakang di Gereja tua siang itu. Parasnya cantik. Matanya bundar rendah bernaung di bawah alis matanya yang lebat mengambang pada wajah kuning langsat. Rambutnya hitam memanjang. Hidungnya mancung. Itu semua membuat wajahnya perfect seperti seorang bintang film yang membuat para lelaki keblinger melihatnya. Yanti, nama yang cantik, secantik pemiliknya. Nama yang penuh arti. Nama yang sering dibicarakan oleh orang-orang sekampungnya. Nama yang sering terdengar ketika orang tua menasihati anak gadisnya. Yah, pokoknya, Yanti adalah nama yang indah, namun menyimpan sejuta misteri. Yanti adalah anak yatim di kampungnya. Ayahnya telah lama pergi menghadap Sang Khalik. Ayahnya pergi ketika ia masih berumur 14 tahun. Umur di mana seorang anak yang masih sangat membutuhkan belaian kasih sayang seorang ayah. Umur yang masih secara penuh bergantung pada ayah. Umur di mana seorang anak ...

Dia Kemburu Pergi

Oleh Emilianus Yakob Sese Tolo Hari pertama kuliah aku melihat dia. Waktu itu, dia begitu manis dan cantik. Ya...dia memang gadis yang cantik. Walaupun cantik dia tidak seperti gadis lain yang over acting karena merasa diri cantik. Dia berbeda. Dia begitu santun dan rendah hati. Selain itu, dia juga begitu dingin dan pendiam. Justru sifat dingin, diam dan santunya itu yang membuat dia tampak dewasa dan begitu menarik bagi kebanyakan mahasiswa seperti aku. Pada kegiatan Temu Akrab yang terjadi di pantai Lasiana, aku berniat untuk “menembaknya”. Kebetulan sekali, di sela-sela acara Temu Akrab, aku dapati dia bertenduh sendirian di bawah pohon kelapa. Dia tersenyum menyambut kedatanganku. Dalam hati aku berguman: “hari ini aku harus berhasil menjadikan dia cinta pertamaku”. Aku mengambil posisi duduk telak di samping dia. Aku mulai membuka percakapan dengan pura-pura menanyakan asalnya. Padahal aku sudah tahu asalnya dari kawan dekatnya, Yusta. Dia menjawab seadanya. Setelahnya, perbinca...

Percakapan Imaginer dengan Gubernur NTT

Oleh Emilianus Yakob Sese Tolo, S. Fil Pesawat transit, Merpati, yang kutumpangi dari bandara Juanda-Surabaya mendarat dengan selamat di bandara Eltari-Kupang. Hatiku lega. Sebab aku tiba dengan selamat. Aku membuang pandangan lewat kaca jendelah pesawat yang bertentuk lingkaran kecil tanpa menghiraukan apa informasi yang disampaikan oleh pramugari cantik. Kulihat cuma dua pesawat kecil yang rupanya sudah tua berjejer rapih. Hal ini tentunya berbeda dengan bandara-bandara di Pulau Jawa yang hampir setiap saat dipenuhi puluhan pesawat yang kualiatasnya jauh lebih baik dari dua pesawat tua itu. Pesawat pun berhenti sempurna. Satu-satu penumpang keluar menuruni tangga pesawat. Aku masih terdiam di tempat dudukku sambil memandangi para penumpang yang berdesak-desakan melewati lorong antara kursi penumpang yang sempit. Dari penampilan mereka, aku bisa tahu kalau mereka adalah orang-orang berduit. Aku menjadi orang terakhir yang menuruni tangga pesawat. Di pintu keluar kubalas senyum pramug...

MALAM ITU

OLEH Emilianus Yakob Sese Tolo Cerpen ini pernah diterbitkan Pos Kupang, edisi 2 Agustus 2009 Malam itu, kira pukul 11.00, aku terjaga dari tidurku. Aku pun segera bangun dari tempat tidurku, dan berjalan menghampiri kursi tua yang terletak di sudut kiri kamar itu. Aku duduk dan tiba-tiba tanganku bergerak menuju sebuah kotak kecil, di sudut meja kecil, berbentuk segi empat yang di dalamnya terdapat ballpoin. Aku memilih snowman VI. Aku segera mengambil diariku yang tersimpan di antara buku-buku bacaan yang cukup usang. Malam itu sunyi sekali. Sekali-kali terdengar olehku lolongan anjing dari kejauhan, dan suara binatang malam yang berlomba-lomba menunjukkan suaranya untuk memuji Sang Pencipta. Kadang-kadang bulu kudukku berdiri karena aku takut jangan-jangan ada orang jahat yang mendatangi kamarku. Aku teringat cerita kakakku bahwa dulu, 3 tahun yang lalu, di tempat kost yang sekarang aku tinggal, ada seorang mahasiswa yang terbunuh oleh sekelompok orang yang tak dikenal. Meski ...